HUBUNGAN ANTARA ASUPAN SERAT DAN ASUPAN AIR PUTIH DENGAN KEJADIAN KONSTIPASI PADA LANSIA
DOI:
https://doi.org/10.31290/jkt.v5i1.896Kata Kunci:
Asupan Serat, Asupan Air putih, KonstipasiAbstrak
Konstipasi menjadi salah satu penyakit yang sering di derita lansia, kurangnya asupan serat dan asupan air putih merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya konstipasi. Tujuan dalam penelitian mengetahui hubungan antara asupan serat dan asupan air putih dengan kejadian konstipasi pada lansia (Middle Age) 45 sampai 59 Tahun di RW 18 Kelurahan Bunul Rejo Kecamatan Blimbing Kota Malang. Jenis penelitian adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah Sample 68 orang, pengambilan sample dengan teknik purposif sampling, teknik pengambilan data menggunakan food recall dan menggunakan kuesioner konstipasi scoring sistem. Berdasarkan hasil penelitian asupan serat didapatkan nilai p sebesar 0,000 dengan r sebesar 0,444 untuk asupan air putih di dapatkan nilai p sebesar 0,000 dengan r sebesar 0,838. Terdapat hubungan antara asupan serat dan asupan air putih dengan kejadian konstipasi pada lansia (Middle Age) 45 sampai 59 tahun di RW 18 Kelurahan Bunul Rejo Kecamatan Blimbing Kota Malang. Diperlukan edukasi kesehatan tentang pentingnya asupan serat dan asupan air putih untuk mencegah terjadinya konstipasi pada lansia.
Referensi
Astawan Made dan Wresdiyati Tutik. (2004). Diet Sehat dengan Makanan Berserat. Solo: Tiga Serangkai.
Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: GRAHA ILMU.
Brown, J. E., Isaacs, J.S., Krinke, U.B., Lechtenberg, E., Murtaugh, M.A., Sharbaugh, C., Splett, P.L., Stang, J., Wooldridge, N.H.(2011). Nutrition Through the Life Cycle. 4th edition. USA: Wadsworth Cengage Learning.
Diyani, D. A. (2012). Hubungan Pengetahuan, Aktivitas Fisik, dan faktor Lain Terhadap Konsumsi Air Minum pada Mahasiswa FKM Ui. Universitas Indonesia.
Fatmah. (2010). Gizi Usia Lanjut. Jakarta.
Erlangga.
Fitriani, I. (2011). Hubungan Asupan
Serat dan Cairan dengan Kejadian
Konstipasi pada Lanjut Usia di Panti
Sosial Sabai Nan Aluih Sicincin.
Fakultas Keperawatan Universitas
Andalas Padang.
Kurniawan, I., & Simadibrata, M. (n.d.). Management of Chronic Constipation in The Elderly.
Mentari, H. (2010). Peran penting air bagi tubuh manusia. STIKES Wira Husada Yogyakarta.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nursalam. (2013). Konsep Dan
Penerapan Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Oktaviana, E. S., & Setiarini, A. (2013). Hubungan Asupan Serat dan Faktor-faktor lain dengan Konstipasi Fungsional pada Mahasiswa Reguler Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2013.
Pradani, V. R., & Dkk. (2015). Hubungan Asupan Serat, Lemak, dan Posisi Buang Air Besar Dengan Kejadian Konstipasi pada Lansia, 3(April).
Pranaka, A. E. (2013). Managemen Cairan & Elektrolit. Yogyakarta: Nuha Medika.
Raissa, T. (2012). Asupan serat dan cairan, aktivitas fisik, serta gejala konstipasi pada lanjut usia. Institut Pertanian Bogor.
Riyadi, S. (2010). keperawatan medikal bedah (sistem pencernaan).
yogyakarta.
Santoso, A. (2011). Serat Pangan (Dietary
Fiber) dan Manfaatnya bagi
Kesehatan.
Saputra, F. (2016). Hubungan Antara
Asupan Serat dan Cairan (Air Putih)
dengan Kejadian Konstipasi Pada Lansia (Studi Di Wilayah Kerja
Puskesmas Saigon Kecamatan Pontianak Timur).
Siagian, A. (2010). Epidemiologi Gizi.
jakarta: Erlangga.
Sianipar, N. B. (2015). Konstipasi pada Pasien Geriatri.
Wulandari, A. (2016). Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan
Konstipasi Melalui Massase Abdomen, Posisi Defekasi, dan Pemberian Cairan.
Wulandari, M. (2016). Hubungan Antara
Asupan Serat dengan Kejadian
Konstipasi pada Pekerja di PT. Tiga
Serangkai.Surakarta.
Muhammadiyah Surakarta.






